Tasikmalaya — Di balik gaya santainya, Richard Abdulloh Mundzir justru menyimpan ritme langkah yang terarah. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka Bandung ini menjadi salah satu penerima hibah dalam Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Tahun 2026, membuktikan bahwa kesederhanaan sikap tak pernah menghalangi keseriusan dalam berkarya.
Lahir di Tasikmalaya, 24 September 2007, Richard tumbuh sebagai santri di Pramuka Khalifa. Lingkungan tersebut membentuk karakter yang adaptif, namun tetap membumi. Ia dikenal sebagai sosok yang santai dalam keseharian, tetapi tetap fokus ketika berhadapan dengan tanggung jawab.
Dalam dunia kepenulisan, Richard aktif sebagai penulis di GOnews.id. Pengalaman ini membentuk kemampuannya dalam meramu informasi menjadi narasi yang komunikatif, sekaligus memperkuat instingnya dalam melihat isu yang relevan di tengah masyarakat.
Capaian terbarunya datang melalui riset berjudul Peran Edukasi Digital dalam Membentuk Entrepreneurial Intentional Mahasiswa pada Bisnis Kuliner di Priangan Timur. Penelitian ini digarap bersama dua rekannya, Ericka Dania dan Alfi Salamah, dengan menyoroti bagaimana edukasi digital berperan dalam membentuk niat kewirausahaan mahasiswa di sektor kuliner.
“Alhamdulillah, rasanya senang dan tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Buat saya, ini bukan hanya soal menang hibah, tapi juga kesempatan untuk belajar lebih jauh dan mengembangkan diri,” ujar Richard, Selasa (21/4/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak kampus yang telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkembang.
“Terima kasih kepada Universitas Terbuka yang sudah memberikan kesempatan ini. Semoga apa yang kami kerjakan bisa bermanfaat dan menjadi pengalaman berharga ke depan,” tambahnya.
Selain aktif di dunia akademik dan kepenulisan, Richard juga pernah mengikuti Pelatihan Bela Negara, yang turut membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dalam dirinya.
Melalui capaian ini, Richard Abdulloh Mundzir memperlihatkan bahwa langkah besar tidak selalu dimulai dengan gegap gempita. Terkadang, justru dari sikap yang tenang dan konsisten, lahir karya yang mampu berbicara lebih jauh.

